Bogor Kali Ini
13 Oktober 2008
Pertama kali aku datang ke sini, rasanya agak berberda. Katanya Bogor itu kota hujan. Selama masuk IPB, tepatnya sejak matrikulasi, Bogor ga pernah hujan.
Siang dan malam cukup panas dan menggerahkan, paginya dingin banget. Tapi akhir-akhir ini feel-nya Bogor udah muncul.
Setiap sore hujan. Hujannya ga nanggung-naggung,,
Hujan deras + petir + kilat = payung rusak + cucian susah kering + malas cari makan + malas mandi (ye..mang tiap sore jarang mandi).
Sebenarnya cukup merepotkan, sebab setiap di luar asrama pikiran langsung tertuju pada jemuran. Dan yang paling menyebalkan latihan taekwondo harus dilakukan di koridor Faperta. Itu artinya latihannya di luar asrama, jadinya kami harus tulis jam malam.
Aku paham ketika mahasiswi lain terburu-buru pulang , bukan karena mereka kangen pada kamar asrama tetapi ingat akan jemuran mereka.
Untungnya selama musim hujan, daya tahan tubuhku kuat. Saat mahasiswa IPB banyak yang sakit flu atau batuk, aku sehat-sehat aja..
Ada tips untuk teman-temanku di IPB menghadapi hujan kali ini :
1. Kalau mau pergi keluar, jangan lupa bawa payung
2. Pake baju yang menghangatkan,kayak sweater(bener ga sih nulisnya?)
3. Bagi yang rentan sama penyakit, banyak minum vitamin
4. Jangan terlalu sering minum es
5. Jangan lupa juga minum susu
Jangan sampai hujan manghalangi aktivitas, apalagi mengganggu kuliah.
TAKE CARE…
Balada Wajah Kembar
Bogor, 10 September 2008
Berawal dari mengisi kegiatan di akhir pekan, aku dan Lela mengikuti acara training. Kebetulan saat itu kami datang paling awal sehingga ada kesempatan untuk ngobrol-ngobrol sedikit dengan panitia acara tersebut. Tak berapa lama kemudian salah satu panitia tersebut mengatakan bahwa wajahku dan Lela mirip. Saat itu kami hanya bisa tertawa, kami masih menganggap biasa saja.
Beberapa hari kemudian kami berkenalan dengan seorang yang juga mahasiswi TPB. Hingga saat kami bertemu kembali dia mengatakan bahwa wajah kami mirip. Sekali lagi kami tertawa mendengarnya. Dalam hati kami mengatakan “kemarin-kemarin juga ada yang bilang begitu”.
Hari demi hari berlalu, semakin banyak saja orang yang mengatakan wajah kami mirip. Dan seperti biasa kami menanggapinya dengan tertawa sedikit kecut. Tapi kecutnya, kecut-kecut manis.
Mirip dari mana coba??? Sudah jelas sekali kami berasal dari pabrik yang berbeda. Aku peranakan Sunda tulen sedangkan Lela peranakan Jawa tulen.
Apa mungkin karena kami sering jalan berdua seperti kata Dewi teman sekamarku. Jadi wajah kami terlihat mirip. Haahkh, teori darimana pula.
Kami sampai bosan mendengar komentar itu. Ya,,kasihan aja, Lela disamain sama orang yang dibilang Syarif mirip Pamela Anderson ( kalo yang ini FITNAH DUNIA).
Lela selalu bilang bahwa kami ini seperti “Jono dan Lono”, kembar tapi beda. Aku Lono, Lela Jono (Ha..ha..ha..maaf ya la..). Aku ga becanda loh..
Kami akhirnya buat perjanjian kalo ada orang kesepuluh yang mengatakan lagi bahwa kami mirip, akan kami belikan hadiah. Adakah orang yang beruntung itu?
Danang, Sang Inspirator dari IPB
Bogor, 10 September 2008
Danang, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, kini menjadi sosok yang sudah tidak asing terutama di kalangan mahasiswa baru TPB IPB.
Yupz, seorang Danang mampu membakar semangat para civitas muda dalam menggapai mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi tapi juga bisa menjadi sesuatu yang nyata.
Bagiku, Kak Danang bukan sekedar orang Luar Biasa yang sering aku jumpai. Tapi dia merupakan sosok yang Amat Sangat Luar Biasa dilihat dari segala pengalaman hidupnya. Dia bukan merupakan dari keluarga yang kaya atau dari kalangan mahasiswa dangan IPK yang tinggi. Akan tetapi, ia mempunyai keinginan yang kuat akan mimpi-mimpinya. Mimpi untuk menjadi manusia berprestasi.
Seorang Kak Danang bisa menciptakan energi baru yang menurutku sangat sesuai pada kondisi kita sebagai mahasiswa baru pada saat ini, masa-masa sensitif awal tingkat perkuliahan.
Sedikit berbagi cerita, bahwa sebenarnya apa yang aku kagumi dari sosok Kak Danang ialah sikapnya yang pantang menyerah, optimis, sabar, teguh, dan percaya diri. Dia mampu membuat seratus target yang kemudian ia tulis dan tempel di dinding kamarnya menjadi kenyataan. Satu per satu target bisa ia capai. Tentu saja dalam pencapaian target tersebut, tidak lepas dari berbagai hambatan.
Kak Danang pernah dicemooh oleh teman-temannya karena menulis target yang menurut mereka impossible. Tapi toh ia tidak peduli akan hal itu.
Ia juga sempat mengalami kegagalan.
Akan tetapi, kini mereka bisa lihat bahwa apa yang ditulis oleh Kak Danang bukanlah sekedar angan-angan belaka tapi sudah menjadi sesuatu yang real, yang mungkin tidak mereka dapatkan.
Pengalaman Kak Danang ini mengingatkanku pada seorang sahabat. Ia juga punya keyakinan yang sama kuat. Sekarang ini satu impiannya telah terpenuhi. Dan mungkin suatu hari nanti impiannya yang lain akan segera ia capai sama halnya dengan Kak Danang.
Dari pengalaman Kak Danang, saya sadar bahwa di setiap hal apapun selalu ada tangan Tuhan. Ketika kita optimis dan yakin akan keinginan kita dan di saat itu juga kita telah berusaha keras, maka Tuhan pasti akan mengabulkan keinginan kita tersebut. Aku juga bisa belajar bahwa kita harus berani bermimpi, bermimpi sebesar-besarnya. Karena Allah pasti mengetahui mimpi kita itu.
Setelah berusaha, pada akhirnya yang harus kita lakukan ialah bertawakal.
Semoga ini menjadi sumber motivasiku yang tak akan habis terbakar.
Dan kini aku memulai hal yang sama dengan Kak Danang, menulis target-target yang ingin aku raih. Mungkin tidak semua bisa terpenuhi, tapi setidaknya pasti ada beberapa yang berhasil. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa membuat jejak-jejak mimpi seperti yang bisa dibuat Kak Danang saat ini. Membuat jejak sebanyak mungkin.
Ada kata-kata yang ditulis oleh Kak Danang yang aku suka :
-Seberapapun indah rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita-
“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan” (Q.S. Ar-Rahman : 55)
coba2 dulu ah…
wei..lagi pengen punya blog,,